Bang Herie”s Birthday
19 Juni 2006
Hari ini aku merasa sangat senang. Ketika pagi tadi ku buka email yahoo, ada email dari Moderator sastra-pembebasan. Puisiku "Tangis dari Jokja" termasuk dalam 16 puisi di sastra-pembebasan yang akan dibacakan publik di acara penggalangan dana untuk korban gempa Jokja tanggal 10 Juni di Amsterdam.
Aku gembira, sekaligus merasa terhormat. Soalnya puisi yang lain karya orang-orang besar seperti Ikranagara, Sobron Aidit, Asahan Aslan Aidit, Herry Latief, dll. Mereka tersebar di USA, Prancis, Belanda dan aku di Indonesia. Memang dari indonesia ku gak sendiri ada beberapa nama lagi. Tapi terlepas dari semua itu, aku tetap merasa senang. Gila aja! Sudah lama banget aku tidak menulis puisi, sejak gabung di sastra-oembebasan jujur saja aku jadi tertantang lagi untuk menulis.
Bagiku menulis puisi adalah pelepas dahagaku mengenai kehidupan. Semua mengalir bagaikan air. Untaian kata menyatu membentuk syair bermakna. Uh pokoknya aku senang! Aku akan terus menulis dan terus berkarya. Thank’s God for your blessing! Rasa percaya diriku kembali lagi.
Ketika engkau datang
bunga-bunga di kebunku selalu bermekaran
Pelangi tak pernah pupus, walau mentari bersinar keras
Seakan ingin selalu menghangatkan hatiku
Gemuruh suaramu luluh lantakan alamku
tapi tetap semaikan rasa itu
walau ombak terus bergulung
tak jadi kendala berarti
untuk terus merasakan cinta
karena aku Si pemuja cinta
Lewat kibasan tanganku
ingin kutebarkan aroma cinta
pada setiap hati yang putih
agar menjadi berwarna
hingga hidup menjadi lebih bermakna
2 Juni 2006
Buat kekasih hatiku.
Icha
Masih kurasa genggaman tanganmu
saat tangan kita saling menjalin
tiada kata terucap
hanya getar rasa yang ada
langit biru saksi bisu
namun takdir berkata lain
pedih itu nikmat
kala rindu datang menyelinap
Malam gerimis dingin mengigit
aku birahi pada malam
yang terus bercumbu dengan angin
merindu kasih pada rasa cinta
enyahkan godaan hianat
lantaran janji terputus
aku menjerit, marah dan murka
salahkah bila ku merindu
walau berbilang tahun
engkau berpulang sudah
Maraknya pro kontra RUU APP, rejeki bagi semua jenis media. Asal pandai mengemas, jadilah berita. Padahal kalau mau sedikit lebih jeli, isi beritanya sama dengan sampah (maaf!) Mengapa saya berpendapat demikian? karena yang ditanyakan tidak jelas, dijawab lebih tidak jelas lagi. Akhirnya masyarakat yang selalu haus akan informasi mendapatkan informasi sampah (Tidak ada arti) membuat masyarakat semakin bodoh. Isi RUU APP itu sendiri tidak pernah secara transparan disosialisasikan di semua lapisan masyarakat. Sehingga seakan-akan kondisi berpolemik adalah kondisi yang disengaja dan dihidupkan.(Alih-alih sekedar mengalihkan perhatian!)
Jujur saja, siapa dan berapa banyak orang yang mempelajari dengan jelas apa isi RUU APP? Kalau dari sekian banyak komisi di DPR RI lebih dari 50 %-nya setuju, kita harus sama-sama duduk dan berdiskusi, menyamakan persepsi dengan mereka yang menjadi wakil rakyat. Karena jangan-jangan mereka menyetujui RUU APP hanya untuk memudahkan kerja mereka. (Setiap periode tugas DPR, selalu ada target dalam mengasilkan produk UU) Artinya mereka merasa tidak perlu mengkaji lebih dalam dampak dari isi RUU APP karena yang penting adalah berapa jumlah RUU yang berhasil di golkan semasa mereka bertugas.
Kadang kala banyak yang berpikir sederhana, karena merasa tidak perlu (Tidak bisa) berpikir lebih dalam. Sehingga pada akhirnya menghasilkan produk perundang-undangan yang membelenggu kebebasan. (Perlu disadari sebenarnya aturan/UU dibuat agar orang bebas melakukan aktivitas bukan sebaliknya, aturan dibuat malah untuk menyusahkan, tanyakan kenapa?)
Dalam tulisan ini saya ingin mengajak semua orang untuk dengan lapang dada dan rasional berpikir mengenai RUU APP ini. Kenapa harus menyudutkan perempuan sebagai korban? Mau jadi apa negera kita,jika penjara akhirnya dipenuhi mereka-mereka yang kedapatan menjadi penyebab lelaki"ngiler" melihat mereka berbalut tank top dan celana hipster.
Mengapa kita tidak bisa memenjarakan mereka yang mempunyai pikiran porno/kotor?
Lagi-lagi logika sederhana bisa menjawab, Siapa sih yang bisa membaca pikiran orang? Ok. Jika pikiran/niatnya tidak bisa terbaca, mengapa ketika mereka melakukan tidak langsung kita kebiri? Berapa banyak pelaku kasus susila yang dibebaskan tapi berulang kembali masuk penjara lagi dengan kasus yang sama.
Mengapa kita tidak bia membuat kondisi berjenjang. Masuk penjara untuk ke-2 kali baik untuk kasus yang serupa atau tidak serupa langsung hukuman mati. Artinya putuskan seseorang cuma punya satu kesempatan memperbaiki diri di penjara.Dan ini berlaku bukan hanya mereka yang terkena pasal susila tapi untuk semua kasus termasuk korupsi. Juga pencuiri kecil atau pencuri besar, sekali masuk penjara diberi kesempatan untuk insyaf, jika kedapatan melakukan untuk kedua kalinya langsung hukum mati.
Agar penjara jangan penuh, sehingga pajak rakyat bisa digunakn untukyang lebih bermanfaat daripada sekedar membiayai kehidupan para napi. Agar jangan pernah ada pikiran porno/kotor dalam benak setiap orang.
Saya menghimbau semua orang mari kita gencarkan Anti Pikir Porno/Kotor. Karena yang masuk kategori Pemikir Porno/Kotor adalah mereka yang gemar melakukan provokasi. Ini yang harus kita waspadai. Para provokator jauh lebih kejam dan dampak yang ditimbulkan dari hasil provokasinya jauh lebih berbahaya daripada akibat sekedar melihat perempuan cantik berbalut "tank top dan Hipster".
Saya pribadi yakin, sebagai orang beragama dan bermoral, kita semua anti pornografi. tapi jangan lupa kegiatan seksual adalah kegiatan alamiah yang sudah diatur sedemikian rupa oleh yang di Atas. Sebagai manusia yang bermoral kita melakoni apa yang sudah digariskan dengan lebih sopan. Sayapun akan marah dan merasa dilecehkan jika ada laki-laki atau perempuan telanjang lewat di depan saya. Bukankah untuk hals emacam itu sudah ada aturannya tak perlu kita buat lagi produk UU yang sekedar menimbulkan kontroversial tanpa memahami arti yang dikandung. Pertanggung jawaban mereka yang memproduksi UU adalah refleksi dari moral mereka sendiri.
Mengapa ketika teknologi dan pengetahuan semakin maju, justru manusia kembali menjadi manusia yang tidak perperikemanusiaan. Bukankah seharusnya kemajuan teknologi dan pengetahuan diimbangi dengan meningkatkan intelektual dan ke Imanan setiap individu? Agar kita lebih bijaksana mensikapi sebuah kondisi kehidupan bermasyarakat. Asal, budaya dan keyakinan kita yang berbeda-beda harusnya justru menjadi kekuatan untuk bersatu padu berlomba menjadi tauladan bagi sesama.
Musibah itu di Jokja dan sekitarnya
ribuan nyawa berpulang kepangkuanNya
Berjuta heran mendesak tanya
Inikah amarahNya?
Adakah pedih ini berarti?
Kalau hanya duduk menanti
Mendengar berita di televisi
Padahal ribuan orang sudah mati?
Ayo kawan berpegang tangan
Hapuskan air mata
Ulurkan lengan
Kita bergandeng tangan
Bergerak bersamaJadikan pedih itu sebagai cemeti
untuk berbuat yang lebih berarti
Agar mereka yang telah pergi
Tidak lagi di tangisi.
Yang hidup lebih membutuhkan
Bukan sekedar mie instan dan sepotong baju
Untuk memulihkan tekad dan keyakinan
Akan harapan yang tersisa
Mungkinkah hadir sepasti mentari
Yang kan terbit di esok pagi..?
Kawan…..
Biarlah airmata ini tumpah
Biarlah ribuan nyawa ini pergi sebagai syuhada
Asal jangan kau goyahkan imanmu
Karena yang kuasa hanya menjentikkan jari
Sebagai peringatan agar kita jangan takabur.
Pasrah dan pasrahlah Senin, 29 Mei 2006
Saudaramu se Indonesia
Dan di seluruh belahan dunia
Berdoa untukmu, saudaraku!
Deritamu adalah deritaku
Doaku menyertaimu!
Kawan,
berita duka itu ku dengar saat aku selesai memberi makan Bas dan Van.
Serasa jiwa ini tercabik-cabik. Aku tidak berasal dari Jokja tapi berita duka itu mampu meluluh lantakkan perasaanku.
Jokja yang kukenal adalah kota kedamain. Kota budaya yang penuh cinta dan kasih. Usiaku belum genap 12 tahun ketika kaki ini menginjak Jokja. Wangi tanah dan harum padi adalah memori yang selalu mengusikku. Berlari di pematang sawah, mengudap jajan pasar setelah menikmati gudek Mbok Karsih. Bersepeda di sepanjang Malioboro diikuti irama kaki kuda yang berlari menarik andong. Keramahan bapak dan ibu tani serta pengrajin kulit, membuka mata hatiku, ada cinta di sana. Matahari Magelang menemaniku yang menyusuri Borobudur. Musik dan bahasa Jawa menggelitik telingaku tapi semua selalu kurindu.
Aku tergerak berbuat sesuatu hanya kecil saja tapi berharap bisa berarti.
Kami menyalurkan bantuan anda berupa: Selimut, sarung, Diapers, Pembalut, BH, CD (laki-perempuan, anak dan balita) Kirimkan dan kami akan mendistribusikan.
Elisa Koraag (0811968684)
D/A: Polling Center: Jl. Wijaya IX/ 7 kenayoran Baru jakarta 12160
Iwan SJP (0811165553)
Rukan Tiara Buncit 88 E 18: Jl. kemang Utara IX Jakarta-Selatan.
Karya kecil akan berarti besar jika ikhlas memberi!
Tuhan memberkati.
Terima kasih untuk "Sentuhan Kasih" Yang dikoordinir Ibu sally Sorongan
Bantuannya sudah kami terima tadi (29 Mei 2006 Pk. 12.50)
Aku pusing……
Aku bingung
Sebenarnya…..Bodohkah aku…???
Barangkali aku memang bodoh….!
Huh…tapi nanti dulu
Aku tamatan S1.
Skripsiku dapat kupertanggung jawabkan,
Walau bukan cumlaude
Tapi nilai B juga lumayan.
Nah…itukan artinya aku tidak bodoh.
Jadi siapa yang bodoh…?
Mengapa aku sulit sekali memahami
Konsep yang ditawarkan calon presiden Indonesia.
Kenapa aku bingung…?
Yang ditawarkan baru konsep tapi yang mencela,
Sudah banyak banget.
Mulai dari layak atau tidak layaknya konsep tersebut direalisasikan
Sampai konsep-konsep yang tidak masuk akal.
Masak mau berantas KKN
Tapi anggota DPRD bermasalah tetap diizinkan dilantik.
Lalu ada partai yang pada putaran pemilihan legislative
Antipati pada partai tertentu….eh..ala sekarang mendukung.
Istilah politik dagang sapi
Kembali jadi topik perbincangan masyarakat.
Mulai di warung kopi kaki lima sampai di cafe daerah Kemang dan Sudirman.
Walaupun kalau ditanya lebih detil,
Hmmm….. aku berani jamin,
kebanyakan tidak paham artinya politik dagang sapi.
Istilah lain jual kursi atau jual jabatan.
Nah yang terakhir jelas sangat hina. Jadi bagaimana mereka bisa merasa terhina? Tuh…kan, aku jadi lebih pusing.
Tapi apa mereka paham artinya hina?
Atau lebih menakutkan lagi
kalau mereka gak tahu yang dimaksud dengan harga diri.
Kalau yang dimaksud harga diri tidak tahu.
Wwiiiih….seram sekali…!!!
Lebih parah lagi pusing membuatku jadi bingung.
Kata orang kalau bingung pegang jempol.
Jempol dipegang, pusing dan bingungku gak berkurang.
Salah pegang jempol,…barangkali!
Habis jempol siapa yang harus ku pegang.
Karena kalau aku gak pusing dan gak bingung.
Aku bisa berpikir…
Bahwa orang seperti aku di tanah air bukan cuma satu.
Apaka ini bagian dari proses pembodohan jangka panjang….?
Jakarta, Agustus 2004
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph